Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) telah menyelenggarakan sebuah Focus Group Discussion (FGD) pada Sabtu, 7 Agustus 2021, dengan mengangkat tema “Towards a Comprehensive Strategy for the East Natuna Development: Geopolitics – Subsurface – Surface Facility – Economics”. Acara yang diadakan secara daring ini bertujuan untuk mengupas strategi pengembangan blok East Natuna dari berbagai macam aspek sebagai salah satu upaya untuk mendukung pencapaian target produksi migas nasional sebesar 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar standar kaki kubik per hari pada tahun 2030 yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Hampir seluruh pemangku kepentingan sektor migas turut berpatisipasi dalam acara ini, mulai dari perwakilan pemerintah, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), lembaga kajian, akademisi serta anggota IATMI dari seluruh penjuru dunia.

Acara diawali dengan sebuah keynote speech mengenai aspek geopolitik area Natuna yang diberikan oleh Professor Purnomo Yusgiantoro. Kemudian, dilanjutkan dengan plenary session yang menghadirkan empat narasumber yang mewakili stakeholder kunci di industri migas; Tutuka Ariadji (Dirjen Migas), Ardiansyah (SKK Migas), John Hisar Simamora (Pertamina), dan Ronald Gunawan (MEDCO Energi) dipandu oleh Ardian Nengkoda (IATMI Saudi Arabia). Tiga sesi FGD kemudian dilakukan secara paralel dimana masing-masing FGD membahas secara spesifik aspek yang diperlukan untuk pengembangan blok East Natuna di masa depan. Pada FGD 1, dibahas mengenai upstream challenges, FGD 2 menitikberatkan pada aspek downstream & utilization, lalu FGD 3 mencakup aspek projects & economics.

 

Blok East Natuna terletak di perairan Natuna, sekitar 225 km ke arah timur laut dari pulau Natuna. Blok ini ditemukan pada tahun 1973, dan Pertamina ditugaskan sebagai operator sejak tahun 2017. Lokasinya yang bedekatan dengan perbatasan wilayah negara-negara tetangga membuat geopolitik menjadi aspek penting dalam menentukan strategi pengembangan blok East Natuna. Selain itu saat ini keadaan geopolitik di kawasan Asia Pacific sedang memanas dengan bertemunya konsep One Belt One Road yang diusung oleh Republik Rakyat China dengan relasi Indo-Pacific yang dimotori oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Apabila diperlukan kerja sama dengan perusahaan migas internasional untuk mengembangkan blok East Natuna, maka aspek geopolitik dan geoekonomi kawasan perlu menjadi salah satu bahan pertimbangan.

Blok East Natuna memiliki kandungan gas yang sangat besar, 222 Tcf initial gas-in-place (IGIP) yang membuatnya menjadi undeveloped gas field terbesar di Asia Tenggara. Namun, kandungan gas yang besar tersebut datang dengan tantangan yang juga besar, dimana kandungan CO2-nya sangat tinggi (lebih dari 70%, merupakan single accumulation CO2 terbesar di dunia). Dengan kondisi tersebut, blok East Natuna diperkirakan memiliki sumberdaya kontingen sebesar 46 Tcf, atau hampir sama dengan total cadangan gas Indonesia (55 Tcf 2P di awal tahun 2020). Selain kandungan CO2 yang tinggi, tantangan lain dari pengembangan blok East Natuna adalah lokasinya yang terpencil; jarak dari blok East Natuna ke pulau Natuna mencapai 225 km dan jarak ke pulau Sumatra mencapai 1000 km.

Pemisahan CO2, beserta pemanfaatannya, merupakan tantangan terbesar untuk dapat mengembangkan blok East Natuna. Untuk menjawab tantangan tersebut, dua buah penerapan teknologi dipaparkan pada sesi FGD, yaitu pemanfaatan supercritical gas expansion dan air laut sebagai pre-cooling untuk meningkatkan efisiensi pemisahan CO2, dan penggunaan wellhead turbo expander untuk menurunkan beban pendinginan selama proses pemisahan CO2. Di samping CO2 reinjection, beberapa alternatif pemanfaatan CO2 yang bertujuan untuk meningkatkan keekonomian juga didiskusikan secara komprehensif selama sesi FGD, diantaranya adalah penggunaan supercritical CO2 sebagai working fluid pada pembangkit tenaga listrik (metode Allam-Cycle), serta pemanfaatan CO2 untuk EOR pada lapangan-lapangan minyak di Sumatra.

Pengembangan lapangan gas raksasa kaya CO2 ini, perlu dikaitkan dari kemampuan industry untuk menyerap CO2. Kawasan industry bisa dibangun di Pulau Natuna dan difokuskan pada industri yang bisa menyerap dan menggunakan CO2 seperti Pabrik GTL (Gas-To-Liquid) yang menghasilkan naptha, kerosine dan diesel serta pabrik DME (Dimethly Ether). Pengembangan industri ini bisa dilakukan secara bertahap yang tentunya akan diikuti dengan pengembangan lapangan gas yang juga dilakukan secara bertahap.

 

Dengan tantangan yang dihadapi, serta skala yang sangat besar, pengembangan blok East Natuna secara bertahap (phasing development) bisa menjadi salah satu solusi. Pengembangan dapat dimulai dengan memproduksikan lingkaran minyak di struktur AP karena minyak lebih mudah untuk dikomersialisasi. Performa dari pengembangan minyak ini bisa terus dimonitor sambil meneruskan studi pengembangan gas di struktur AL, yang dapat dibagi menjadi beberapa modul. Modul-modul ini dapat disesuaikan dengan kemampuan penyerapan industri penunjang dalam menyerap CO2 dan juga pasar gas yang tersedia. CO2 yang tidak terserap oleh industri dapat diinjeksikan kembali ke bawah tanah dengan teknologi CCUS (Carbon Capture, Utilization and Storage) dan CCS (Carbon Caputre and Storage).

Dukungan dari pemerintah sangat diperlukan untuk mendukung keekonomian proyek raksasa ini, dimana untuk hal ini pihak SKK Migas telah menyampaikan dukungannya dan keterbukaannya untuk berdiskusi mengenai kondisi fiskal dan insentif terkait pengembangan blok East Natuna.

Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat, dan di saat yang bersamaan Indonesia juga harus menghadapi tantangan untuk dapat menurunkan emisi karbon. Di satu sisi, blok East Natuna memiliki kandungan gas yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi yang ramah lingkungan. Di sisi lain, blok East Natuna memiliki kandungan CO2  yang juga sangat besar yang perlu dicarikan solusi pemanfaatannya agar tetap dapat mendukung program penurunan emisi karbon serta dapat menghasilkan proyek yang ekonomis yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara langsung maupun melalui multiplier effect yang dihasilkan. Berbagai macam alternatif solusi, baik teknis maupun non-teknis, yang telah dipaparkan dalam FGD ini diharapkan dapat mengantarkan semua stakeholder yang terlibat selangkah lebih dekat menuju pengembangan blok East Natuna.

(IATMI Pusat)

 

 

 

Informasi tambahan:

  1. Acara dibuka oleh John Hisar Simamora (Ketua Umum IATMI)
  2. Acara dihadiri oleh perwakilan dari Pertamina dan ExxonMobil
  3. Ketua FGD Pengembangan Blok East Natuna: Ngurah Beni Setiawan (Schlumberger)
  4. Rekomendasi FGD dipaparkan oleh Henricus Herwin (VP Technical Excellence & Coordination, Pertamina) dan ditutup oleh Hadi Ismoyo (Sekjen IATMI)
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Menu