Senin, 03/08/09 | 11:15 WIB ![]()
Peran IATMI sangat diharapkan untuk ikut meningkatkan. Harapan itu merupakan jawaban langsung Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dr. Purnomo Yusgiantoro terhadap isyu yang diangkat IATMI. Untuk membantu, menurut Menteri, IATMI sebagai salah satu mitra Pemerintah dapat melakukan beberapa hal seperti: meningkatkan produksi melahirkan penerapan teknologi (EOR dll), meningkatkan partisipasi nasional dalam industri migas, meningkatkan kompetensi tenaga ahli Indonesia, meningkatkan kkk perusahaan nasional, meningkatkan pemakaian barang jasa dalam negeri, meningkatkan peran serta TKI. Hal tersebut diungkapkan Menteri Purnomo ketika secara panjang lebar menjelaskan Kemandirian Energi Nasional dalam inspiring talks bertajuk “Kemandirian Energi Nasional” yang diselenggarakan oleh IATMI Pusat di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Jakarta, 23 April 2009. Kemandirian Energi Siang itu, ruang seminar yang sejuk itu dipenuhi oleh pengunjung yang sebagian besar adalah anggota IATMI dan praktisi lain dalam industri migas. Hadir pula beberapa tokoh senior perminyakan, antara lain Suyitno Padmosukismo, Bambang Malana, Baihaki Hakim, Priyambodo Mulyosudirjo, Triyana dan Kardaya Warnika. Mereka tumpah ruah memadati ruangan sehingga sebagian hadirin termasuk wartawan terpaksa duduk di lantai karpet. Mengemukakan paparannya dibantu tayangan slide, Menteri Purnomo menjelaskan secara runtut kemandirian energi, rencana kebutuhan dan pasokan energi nasional, kondisi industri migas saat ini, kontribusi migas dalam pembangunan nasional dan kontribusi masukan yang diharapkan IATMI. Ketika menjelaskan definisi kemandirian energi, Menteri merujuk pada beberapa faktor yaitu aksesibilitas (infrastructure’s availability), daya beli (willingness to pay), dan ketersediaan (security of energy supply). Diungkapkannya betapa kompleksnya proses pengiriman BBM ke tempat-tempat yang jauh seperti Bitung, Wamena dan lain-lain.”Masalah utama di sektor migas memang kebanyakan complication di daerah”, kata Menteri. Melalui gambar yang jelas, Menteri membandingkan kondisi Indonesia dengan dua negara, Arab yang kaya sumber daya migas dan Jepang yang kaya prasarana. Selain mengungkapkan kendala, Menteri juga menjelaskan upaya yang telah dan tengah dilakukan dalam mengatasi kendala yang dihadapi. Misalnya membangun terminal gas di Arun, Bontang, Donggi, Masela dan Tangguh. Selain itu upaya memperbaiki moda transportasi, upaya diversifikasi energi. “Jangan kita tergantung pada migas saja”, kata Menteri dalam acara Tanya jawab. “Saya ingin teman-teman IATMI bisa ikut mensosialisasikan informasi ini kepada masyarakat”, kata Menteri.
|
Informasi Event Sponsor Pencarian Penyedia Barang & Jasa
Link Web
|