| Daftar | Sabtu, 11 September 10
 
IATMI 30 TAHUN: MENJADI DEWASA DAN PROFESIONAL
Lokasi: Home / Berita / IATMI PUSAT / [Sumber: Renville Almatsier]
Selasa, 28/07/09 | 19:46 WIB

Selamat ! IATMI merayakan ulang tahunnya yang ke-30 pada 7 Juni 2009. Kalau tidak ada IATMI, tentu tidak ada forum ini. Kita tidak saling kenal, saya tidak akan berjumpa Anda.

 

Tak banyak organisasi profesi  yang bisa survive. Seperti IATMI Sering kita dengar, ada wadah para profesional bidang tertentu yang sepanjang masa terus berselisih. Ada lagi wadah yang  cepat berkembang namun kemudian pecah berkeping dan sulit untuk kemudian dipersatukan lagi. Meski tak ada lagi ketentuan wajibnya wadah tunggal, ada organisasi profesi yang merasa ditandingi oleh keberadaan wadah profesional serupa.

 

Lain hal,  ada pula organisasi yang puluhan tahun tanpa pernah  menaikkan iuran keanggotaannya. Hidupnya kembang-kempis. Padahal, jumlah anggota bertambah. Itu hanya dimungkinkan oleh adanya dukungan penaja. Ada pula  organisasi yang justru  mengumumkan kematiannya di saat mencapai usia dewasa.. Alasannya. sang ketua yang selama ini menjadi motor pengelola segala-galanya mulai uzur dan tak ada yang mau dan mampu meneruskan  usahanya.

 

Demikinlah sebuah daur kehidupan berlangsung. Daur itu sendiri memang kebanyakan ada dalam kuasa Tuhan. Tetapi keterlibatan manusia di dalamnya sering ikut menentukan Alhamdulillah hal itu tak terjadi pada IATMI.

 

IATMI yang kini merayakan ulang tahun ke 30, pada dasarnya juga merayakan keberhasilannya mempertahankan eksistensi dan kemandiriannya.. Bila diandaikan pada manusia, usia 30 tahun adalah usaha dimana seseorang mencapai kedewasaan dan puncak kematangannya.Pada tingkat kedewasaan seperti itu  justru dibutuhkan kewaspadaan yang lebih tinggi.

 

Namun tingkat kedewasaan seseorang memang tidak selalu berbanding lurus dengan usianya. Mereka yang lebih tua belum tentu lebih dewasa.

 

Ada beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kedewasaan seseorang yang mungkin bisa  diterapkan pada sebuah organisasi seperti IATMI.

 

Seorang disebut dewasa bila ia matang dalam beberapa hal. Yang pertama,  Intelektual Dari segi ini kita dikatakan dewasa dilihat dari kemampuan membentuk pendirian. Artinya, kita punya pendirian atau prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi yanmg menuntut kita untuk bersikap. Yang kedua adalah unsure Emosional   Ini ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar.  Lalu, faktor Sosial. Hal ini tampak dari keterbukaannya terhadap orang lain. Kita bisa menyesuaikan diri dan hormat dengan hukum, kebiasaan dan adat-istiadat masyarakat di mana pun kita berada. Hal yang lain adalah Moral. Dapat dilihat dari kesetiaan kita pada asas-asas moral dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yang terakhir adalah Spiritual  Kedewasaan dari segi ini dilihat dari cara berkeyakinan yang tidak sempit. Kita mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang yang berkeyakinan berbeda.

 

Kedewasaan adalah proses perkembangan kepribadian. Karena proses, ia tidak bisa instant. Kedewasaan itu lebih ke sikap kita dalam menghadapi apa pun. Memang mestinya yang umurnya lebih banyak akan lebih dewasa karena sudah mengalami banyak hal dalam hidup dan lebih banyak belajar dari pengalaman. Tetapi nyatanya tidak selalu begitu. Karena pendewasaan dalam prosesnya bisa mengalami kemajuan, mandek bahkan mundur. Orang yang selalu belajar dari pengalaman dan suka introspeksi diri  biasanya proses kedewasaannnya makin maju. Artinya, makin hari ia  makin tumbuh lebih bijaksana. Sebaliknya orang yang cepat merasa puas sehingga merasa tidak perlu belajar lagi, manja tidak mau dikritik dan selalu lari dari masalah akan mengalami hambatan dalam proses pendewasaannya. Alangkah indahnya bila ini juga diterapkan pada organisasi seperti IATMI.

 

Satu hal lain yang dituntut dariu seeorang atau sebuah organisasi dalam usia dewasa adalah profesionalisme atau sikap yang profesional. Dalam kaitan IATMI, sudah banyak imbauan, mulai dari menteri hingga para pakar dalam berbagai seminar yang mengajak IATMI sebagai organisasai maupun para anggotanya untuk bersikap profesional. Berulang kali Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro “menantang” IATMI dan anggotanya untuk “menjadi profesional”.

 

Seorang pakar dalam sebuah artikel manajemen, mengatakan, “Sebutan profesional bukan sesuatu yang datang dari jabatan atau gelar kesarjanaan, tapi suatu deskripsi yang kita harapakan akan diberikan orang lain kepada kita. Dan menyatakan bahwa bila kita membicarakan istilah profesional, kita harus menanyakan diri sendiri, kualitas apa yang kita harapkan dari seseorang yang memberikan jasa tertentu kapad kita.

 

Berikut ini adalah definisi profesional yang saya kutip dari sebuah  penerbitan manajemen:

 

o Bangga pada pekerjaan dan menunjukkan komitmen terhadap kualitas

o Jujur, dapat dipercaya dan loyal

o Bertanggung jawab penuh, mengantisipasi dan tidak menunggu perintah

o Mau melakukan apa saja untuk menyukseskan pekerjaan

o Turut berperan  dan tidak hanya terbatas pada tugas yang dibebankan

o Seorang team player

o  Meletakkan diri pada posisi mitra kerja atau mitra bisnis

o Mendengarkan keluhan dan kebutuhan mitra kerja atau mitra bisnis

o Selalu mencari cara baru untuk membuat segala hal lebih mudah

 

Namun lebih dari itu, hal utama yang mendasari semuanya: profesional punya sikap peduli. Mengacu kembali kepada imbauan Menteri,  sebagai organisasi  maupun sebagai profesional,  IATMI diharapkan memberikan masukan mengenai kaidah keteknikan (good engineering practice) yang baik dala usaha kegiatan migas serta memberi masukan hal-hal prioritas dalam kegiatan migas,.

 

Selain itu, dalam merayakan ulang tahun ke 30, IATMI  agaknya perlu  melakukan refleksi. Ada tiga hal utama dalam refleksi itu. Yakni, menghadapi kenyataan tentang hidup selama ini, menentukan angan-angan  dan menghindari rintangan yang menghambat kemajuan..

 

Selama kita masih hidup dan sehat, kita masih mampu membuat berbagai pilihan. Masing-masing kita dapat membangun pelangi kehidupan dan membuatnya berwarna-warni sebagai mana kita inginkan.

 

Kita memiliki angan-angan dan harus berjuang untuk merealisasikannya semasa kita hidup, berapapun umur kita, 30 atau 50 tahun. Seorang pakar pengembangan pribadi mengatakan, angan-angan itu penting dimiliki di semua bidang kehidupan kita. Ia menganjurkan kita perlu belajar merajut mimpi (dream weaving).

 

Untuk melakukannya bukan masalah besar. Namun kita perlu dorongan kekuatan yang besar untuk menentukan apa yang akan kita lakukan. Pertanyaan di atas akan memberi langkah-langkah pendahuluan, untuk merealisasikan angan-angan IATMI dan melihat hidup IATMI ke depan untuk sekian tahun mendatang…Selamat ulang tahun !


Informasi Event
 
Sponsor
 
Aids
 
Waaa Ini Banner
 
Pencarian Penyedia Barang & Jasa

Link Web